Masa Hindu-Buddha berlangsung
selama kurang lebih 12 abad. Pembabakan masa Hindu-Buddha terbagi menjadi tiga,
yaitu periode pertumbuhan, perkembangan, dan keruntuhan. Pada abad ke-16 agama
Islam mulai mendominasi Nusantara. Namun, tidak berarti pengaruh kebudayaan
Hindu-Buddha hilang tergantikan kebudayaan Islam. Agama Islam mengakomodasi
peninggalan Hindu-Buddha, tentunya dengan melakukan modifikasi agar tetap berselang
beberapa abad, wujud peradaban Hindu-Buddha masih dapat kita saksikan hingga
sekarang, misalnya dalam perwujudan
sastra dan arsitektur.
(Taufik Abdullah (ed), 2012)
Kutipan di atas menunjukkan
perkembangan Kebudayaan Hindu-Buddha sudah berlangsung sangat lama dan meluas
diseluruh Kepulauan Indonesia. Kebudayaan yang sangat monumental adalah mulai
dikenalnya tulisan. Pengaruh-pengaruh budaya Hindu-Buddha masuk ke Kepulauan
Indonesia. Masa ini sering kali disebut juga dengan masa klasik, yaitu awal
masuknya unsur-unsur budaya India di Kepulauan Indonesia. Pada tahapan ini pula
banyak kemajuan yang dicapai dalam pemikiran dan hasil-hasil budaya baik dalam
bentuk benda, maupun budaya tak benda. Masa klasik juga diartikan sebagai
pertimbangan banyaknya capaian budaya pada masa Hindu-Buddha itu yang masih
tetap dihargai dan ditafsirkan ulang hingga saat ini meskipun pengaruh budaya
Hindu-Buddha sudah mulai memudar dan digantikan oleh budaya lain. Cerita Lara
Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Cerita itu yang melatarbelakangi terjadinya
Candi Prambanan. Dua mahakarya itu merupakan bukti-bukti pencapaian yang luar biasa
pada Dinasti Syailendra. Setelah masa dinasti tersebut surut,pusat kebudayaan
dan politik kerajaan pindah ke Jawa bagian timur. Di Jawa bagian timur itu kemudian
berdirilah kerajaan yang diperintah oleh keturunan Raja Mataram yang bernama
Mpu Sindok. Beberapa sumber sejarah yang berasal dari Cina menyebutkan tentang
adanya hubungan perkawinan antara raja Jawa dan Bali pada masa pemerintahannya.
Sementara itu, di Sumatra terdapat Kerajaan yang sangat terkenal, yaitu
Sriwijaya. Kerajaan yang handal menjalin hubungan dengan dunia internasional
melalui jaringan perdagangan dankemaritimannya. Dalam masa itulah para pedagang
datang dari India, Cina dan Arab untuk meramaikan Sriwijaya. Saat Sumatra
berada di bawah Dinasti Syailendra, kerajaan itu dapat menguasai
kerajaan-kerajaan lain di sepanjang Selat Malaka. Pada masa itu pula hubungan
dengan India dan Cina berkembang pesat. Bahkan hubungan itu sangat berpengaruh
dalam perkembangan budaya pada masa itu, bahkan hingga saat ini pengaruh kedua
budaya itu masih dapat kita temui. Kehebatan Sriwijaya juga ditunjukkan dengan
adanya “dharma” (sumbangan) dari Raja Sriwijaya untuk mendirikan asrama di
Nalanda, India. Sriwijaya pun menjadi pusat belajar agama Buddha pada masa itu.
Sumber-sumber Tibet dan Nepal menyebutkan, seorang pendeta Buddha yang bernama
Atisa, belajar Agama Buddha di Sriwijaya selama 12 tahun, atas saran I-tsing, seorang musafir dari Cina yang lebih
dahulu pernah singgah di Sriwijaya.
Wayang sudah dikenal oleh nenek
moyang kita sejak masa Hindu-Buddha. Melalui wayang kisah Mahabharata dipentaskan.
Kisah yang hingga saat ini masih populer adalah kisah Bharatayudha.
Kisah yang menceritakan tentang perang saudara antara Kurawa dan Pandawa,
tentang kebaikan yang mengalahkan kejahatan. Cerita itu merupakan saduran dari
India. Seorang pujangga Jawa diperintahkan oleh Jabajaya untuk menulis cerita
itu dalam versi Jawa. Jayabaya adalah Raja Kediri yang kekuasaannya tidak dapat
ditentang oleh kerajaan-kerajaan lain. Raja ini pula yang dikenal karena
kehebatan ramalannya. Selain Mahabharata juga dikenal cerita tentang Ramayana.
Dari kisah Ramayana itulah disebutkan adanya Jawadwipa, pulau yang kaya
dengan tambang emas dan perak. Nama Jawadwipa juga sudah dikenal oleh seorang
ahli geografi Yunani, Ptolomeus, pada awal tarikh Masehi dengan nama “Labadiu”.
Jadi nama Kepulauan Indonesia sudah ditulis dan dikenal oleh penulis Barat jauh
pada masa awal Masehi. Ptolomeus menyebutkan bahwa Pulau Labadiu artinya Pulau
Padi atau dikenal pula dengan Jawadwipa. Tanda-tanda tertua adanya pengaruh
kebudayaan Hindu di Indonesia berupa prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah
Sungai Cisedane dekat Kota Bogor saat ini. Juga di Jawa Barat dekat Kota
Jakarta. Disamping itu kita juga dapat melihat peninggalan kebudayaan Hindia
itu di sepanjang pantai Kalimantan Timur, yaitu di daerah Muara Kaman, Kutai.
Menurut para ahli sejarah kuno, kerajaan-kerajaan yang disebut dalam
prasastiprasasti itu adalah kerajaan Indonesia asli, yang hidup makmur bersumber
dari perdagangan dengan negara-negara di India Selatan. Interaksi dengan
orang-orang dari negara lain itulah yang kemudian mempengaruh cara pandang para
raja-raja saat itu untuk mengadopsi konsep-konsep Hindu dengan cara mengundang
para ahli dan para pendeta dari golongan Brahmana (pendeta) di India Selatan
yang beragama Wisnu atau Brahma. Setelah budaya India masuk, terjadi banyak
perubahan dalam tatanan kehidupan. kerajaan tertua di Muarakaman, Kalimatan
Timur, yaitu Kerajaan Kutai mendapat pengaruh yang kuat dari budaya India yaitu
budaya yang dikembangkan oleh Bangsa Arya di lembah Sungai Indus. Percampuran
budaya itu kemudian melahirkan kerajaan yang bersifat Hindu di Nusantara. Baik
itu yang mencakup dalam sistem religi, sistem kemasyarakatan, dan bentuk
pemerintahan. Suatu hal yang sangat penting dalam pengaruh Hindu adalah adanya
konsepsi mengenai susunan negara yang amat hirarkis dengan pembagian-pembagian
dan fraksi-fraksi yang digolongkan ke dalam empat atau delapan bagian besar yang
bersifat sederajat dan tersusun secara simetris. Semua bagian bagian itu
diorientasikan ke atas, yaitu sang raja dianggap sebagai keturunan dewa. Raja
dianggap keramat dan puncak dari segala hal dalam negara dan pusat alam
semesta. Kebudayaan Hindu di zaman itu mempunyai kekuatan yang besar dan serupa
dengan zaman modern saat ini, seperti kebudayaan Barat ataupun kebudayaan Korea
yang hampir mempengaruhi seluruh kehidupan semua bangsa-bangsa di dunia.
Demikian halnya dengan kebudayaan intelektual agama Hindu pada masa itu yang mempunyai
pengaruh kuat di Asia Tenggara. Sebelum kebudayaan India masuk, pemerintahan
desa dipimpin oleh seorang kepala suku yang dipilih oleh anggota masyarakat. Seorang
kepala suku merupakan orang pilihan yang mengetahui tentang adat istiadat dan
upacara pemujaan roh nenek moyangnya dengan baik. Ia juga dianggap sebagai
wakil nenek moyangnya. Ia harus dapat melindungi keselamatan dan kesejahteraan
rakyatnya. Karena itulah larangan dan perintahnya dipatuhi oleh warganya. Setelah
masuknya budaya India, terjadi perubahan. Kedudukan kepala suku digantikan oleh
raja seperti halnya di India. Raja memiliki kekuasaan yang sangat besar.
Kedudukan raja tidak lagi dipilih oleh rakyatnya, akan tetapi diturunkan secara
turun temurun. Raja merupakan penjelmaan dewa yang seringkali disembah oleh rakyatnya.
Para Brahmana agama Hindu tidak dibebani untuk menyebarkan agama Hindu di
Indonesia. Pada dasarnya seseorang tidak dapat menjadi Hindu, tetapi seseorang
itu lahir sebagai Hindu. Mengingat hal tersebut, maka menjadi menarik dengan
adanya agama Hindu di Indonesia. Bagaimana dapat terjadi bahwa orang-orang Indonesia
yang pasti pada mulanya tidak dilahirkan sebagai Hindu dapat beragama Hindu. Demikian
pula dengan sistem kemasyarakatan. Sistem kemasyarakatan yang dikembangkan oleh
bangsa Arya yang berkembang di Lembah Sungai Indus adalah sistem kasta. Sistem kasta
mengatur hubungan sosial bangsa Arya dengan bangsa-bangsa yang ditaklukkannya.
Sistem ini membedakan masyarakat berdasarkan fungsinya.
Golongan Brahmana (pendeta)
menduduki golongan pertama.
Ksatria (bangsawan, prajurit)
menduduki golongan kedua.
Waisya (pedagang dan petani)
menduduki golongan ketiga
Sudra (rakyat biasa) menduduki golongan
terendah atau golongan keempat.
Sistem kepercayaan dan kasta
menjadi dasar terbentuknya kepercayaan terhadap Hinduisme. Penggolongan seperti
inilah yang disebut caturwarna. Awal hubungan dagang antara penduduk Kepulauan
Nusantara dan India bertepatan dengan perkembangan pesat dari agama Buddha.
Pendeta-pendeta Buddha menyebarkan ajarannya keseluruh penjuru dunia melalui
jalur perdagangan tanpa menghitungkan kesulitan-kesulitan yang ditempuhnya.
Mereka mendaki Himalaya untuk menyebarkan ajaran Buddha di Tibet. Dari Tibet
mereka melanjutkan ke arah utara hingga sampai ke Cina. Kedatangan mereka itu
biasanya disampaikan terlebih dahulu, sehingga ketika tiba di tempat tujuan mereka
dapat bertemu dengan kalangan istana. Mereka biasanya mengajarkan agama dengan
penuh ketekunan. Mereka juga membentuk sebuah sanggha dengan biksubiksu setempat,
sehingga muncul suatu ikatan langsung dengan India, tanah suci agama Buddha.
Kedatangan para biksu dari India ke negara-negara lain itu, memunculkan keinginan
para penduduk daerah setempat untuk pergi ke India mempelajari agama Buddha
lebih lanjut. Para biksu lokal itu kemudian kembali dengan membawa kitab-kitab suci,
relik, dan kesan-kesan. Bosch menyebut
gejala ini dengan “arus balik”. Pengaruh Buddha di Indonesia dapat dijumpai
pada beberapa temuan arkeologis. Satu bukti adalah ditemukannya arca Buddha terbuat
dari perunggu di daerah Sempaga, Sulawesi Selatan. Menurut ciri-cirinya, arca Sempaga
memperlihatkan langgam seni arca Amarawati dari India Selatan. Arca sejenis juga
ditemukan di daerah Jember, Jawa Timur dan daerah Bukit Siguntang Sumatra Selatan.
Di daerah Kota Bangun Kutai, Kalimantan Timur, juga ditemukan arca Buddha. Arca
Buddha itu memperlihatkan ciri seni area dari India Utara.
Terdapat berbagai pendapat
mengenai proses masuknya Hindu-Buddha atau sering disebut Hindunisasi. Beberapa
pendapat (teori) tersebut dijelaskan pada uraian berikut:
1. Teori
Ksatria. Dalam kaitan ini R.C. Majundar berpendapat, bahwa
munculnya kerajaan atau pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia disebabkan oleh
peranan kaum ksatria atau para prajurit India. Para prajurit diduga
melarikan diri dari India dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia
dan Asia Tenggara pada umumnya. Namun teori ini kurang disertai dengan
bukti-bukti yang mendukung. belum ada ahli arkeolog yang dapat menemukan
bukti-bukti yang menunjukkan adanya ekspansi dari prajurit-prajurit India ke
Kepulauan Indonesia. Kekuatan teori ini terletak pada semangat petualangan para
kaum ksatria.
2. Teori
Waisya. Teori ini terkait dengan pendapat N.J. Krom yang mengatakan bahwa kelompok yang berperan dalam
dalam penyebaran Hindu-Buddha di Asia Tenggara, termasuk Indonesia adalah kaum
pedagang. Pada mulanya para pedagang India berlayar untuk berdagang. Pada
saat itu jalur perdagangan ditempuh melalui lautan yang menyebabkan mereka
tergantung pada musim angin dan kondisi alam. Bila musim angin tidak memungkinkan
maka mereka akan menetap lebih lama untuk menunggu musim baik. Para pedagang
India pun melakukan perkawinan dengan penduduk pribumi dan melalui perkawinan tersebut
mereka mengembangkan kebudayaan India. Menurut G.Coedes, yang memotivasi para pedagang India untuk datang ke
AsiaTenggara adalah keinginan untuk memperoleh barang tambang terutama emas
dan hasil hutan.
3. Teori
Brahmana. Sesuai dengan pendapat J.C. van Leur bahwa Hindunisasi di Kepulauan Indonesia
disebabkan oleh peranan kaum Brahmana. Pendapat van Leur didasarkan atas
temuan-temuan prasasti yang menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.
Bahasa dan huruf tersebut hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Selain itu adanya
kepentingan dari para penguasa untuk mengundang para Brahmana India ke Asia
Tenggara untuk keperluan upacara keagamaan. Seperti pelaksanaan upacara
inisiasi yang dilakukan oleh para kepala suku agar mereka menjadi golongan
ksatria. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukan oleh Paul Wheatly bahwa para penguasa
lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan dengan kebudayaan India guna
mengangkat status sosial mereka.
4.
Teori ArusBalik. Teori ini lebih menekankan pada peranan
bangsa Indonesia sendiri dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu-Buddha di
Indonesia. Artinya,orang-orang di Kepulauan Indonesia terutama para
tokohnya yang pergi ke India. Di India mereka belajar hal ihwal agama dan
kebudayaan Hindu-Buddha. Setelah kembali mereka mengajarka dan menyebarkan
ajaran agama itu kepada masyarakatnya. Pandangan ini dapat dikaitkan
dengan pandangan F.D.K. Bosch yang
menyatakan bahwa proses Indianisasi di Kepulauan Indonesia dilakukan oleh
kelompok tertentu, mereka itu terdiri dari kaum terpelajar yang mempunyai
semangat untuk menyebarkan agama Buddha. Kedatangan mereka disambut baik
oleh tokoh masyarakat. Selanjutnya karena tertarik dengan ajaran Hindu-Buddha
mereka pergi ke India untuk memperdalam ajaran itu. Lebih lanjut Bosch mengemukakan bahwa proses
Indianisasi adalah suatu pengaruh yang kuat terhadap kebudayaan lokal.
Berdasarkan teori-teori yang
dikemukan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa masyarakat di Kepulauan
Indonesia telah mencapai tingkatan tertentu sebelum munculnya kerajaan yang
bersifat Hindu-Buddha. Melalui proses akulturisasi, budaya yang dianggap sesuai
dengan karakteristik masyarakat diterima dengan menyesuaikan pada budaya
masyarakat setempat pada masa itu.
Trowulan di Mojokerto diperkirakan dulu menjadi pusat pemerintahan
Kerajaan Majapahit. Beberapa situs yang dapat kita temukan sekarang misalnya
ada pendhopo, segaran, Candi Bajang Ratu dan sebagainya. Majapahit tempo dulu
merupakan kerajaan yang luas dan sudah menjalin kerja sama dengan
kerajaan-kerajaan di luar Kepulauan Indonesia. Mohammad Yamin menyebut
Kerajaan Majapahit itu sebagai Kerajaan Nasional kedua. Kerajaan
Majapahit, satu diantara kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang ada di Nusantara.
1.
Kerajaan
Kutai
Kerajaan Kutai, tidak lepas dari sosok Raja Mulawarman. Kerajaan Kutai
ini dipandang sebagai kerajaan Hindu-Buddha yang pertama di Indonesia. Kerajaan
Kutai diperkirakan terletak di daerah Muarakaman di tepi Sungai Mahakam,
Kalimantan Timur. Sungai Mahakam merupakan sungai yang cukup besar dan memiliki
beberapa anak sungai. Sekitar tempat pertemuan antara Sungai Mahakam dengan
anak sungainya diperkirakan merupakan letak Muarakaman dahulu. Sungai ini dapat
dilayari dari pantai sampai masuk ke Muarakaman, sehingga baik untuk
perdagangan. Inilah posisi yang sangat menguntungkan untuk meningkatkan
perekonomian masyarakat. Sumber sejarah Kutai yang utama adalah prasasti yang
disebut yupa, yaitu berupa batu bertulis. Yupa juga sebagai tugu peringatan
dari upacara kurban. Yupa ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Mulawarman.
Prasasti Yupa ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa sanskerta. Dengan melihat
bentuk hurufnya, para ahli berpendapat bahwa yupa dibuat sekitar abad ke-5 M.
Hal menarik dalam prasasti itu adalah disebutkannya nama kakek Mulawarman yang
bernama Kudungga. Kudungga berarti penguasa lokal yang setelah terkena pengaruh
Hindu-Buddha daerahnya berubah menjadi kerajaan. Walaupun sudah mendapat
pengaruh Hindu-Buddha namanya tetap Kudungga berbeda dengan puteranya yang
bernama Aswawarman dan cucunya yang bernama Mulawarman. Oleh karena itu yang
terkenal sebagai wamsakerta adalah Aswawarman. Satu di antara yupa itu memberi
informasi penting tentang silsilah Raja Mulawarman. Diterangkan bahwa Kudungga
mempunyai putra bernama Aswawarman. Raja Aswawarman dikatakan seperti Dewa
Ansuman (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga anak, tetapi yang terkenal
adalah Mulawarman. Raja Mulawarman dikatakan sebagai raja yang terbesar di
Kutai. Ia pemeluk agama Hindu- Siwa yang setia. Tempat sucinya dinamakan Waprakeswara.
Ia juga dikenal sebagai raja yang sangat dekat dengan kaum brahmana dan rakyat.
Raja Mulawarman sangat dermawan. Ia mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor
lembu untuk para brahmana. Oleh karena itu, sebagai rasa terima kasih dan peringatan
mengenai upacara kurban, para brahmana mendirikan sebuah yupa. Pada masa
pemerintahan Mulawarman, Kutai mengalami zaman keemasan. Kehidupan ekonomi pun
mengalami perkembangan. Kutai terletak di tepi sungai, sehingga masyarakatnya
melakukan pertanian. Selain itu, mereka banyak yang melakukan perdagangan.
Bahkan diperkirakan sudah terjadi hubungan dagang dengan luar. Jalur
perdagangan internasional dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina
dan sampai di Cina. Dalam pelayarannya dimungkinkan para pedagang itu singgah
terlebih dahulu di Kutai. Dengan demikian, Kutai semakin ramai dan rakyat hidup
makmur. Satu di antara yupa di
Kerajaan Kutai berisi keterangan yang
artinya:“Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah
20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam
tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara”.
2.
Kerajaan
Tarumanegara
Sejarah tertua yang berkaitan dengan pengendalian banjir dan sistem
pengairan adalah pada masa Kerajaan Tarumanegara. Untuk mengendalikan
banjir dan usaha pertanian yang diduga di wilayah Jakarta saat ini, maka Raja
Purnawarman menggali Sungai Candrabaga. Setelah selesai melakukan penggalian
sungai maka raja mempersembahkan 1.000 ekor lembu kepada brahmana. Berkat
sungai itulah penduduk Tarumanegara menjadi makmur.
Purnawarman adalah raja terkenal dari Tarumanegara. Perlu kamu pahami
bahwa setelah Kerajaan Kutai berkembang di Kalimantan Timur, di Jawa bagian
barat muncul Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini terletak tidak jauh dari
pantai utara Jawa bagian barat. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan
letak pusat Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berada di antara Sungai Citarum
dan Cisadane. Kalau mengingat namanya Tarumanegara, dan kata taruma mungkin
berkaitan dengan kata tarum yang artinya nila. Kata tarum dipakai
sebagai nama sebuah sungai di Jawa Barat, yakni Sungai Citarum. Sumber sejarah
Tarumanegara yang utama adalah beberapa prasasti yang telah ditemukan.
Berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Tarumanegara, telah ditemukan tujuh buah
prasasti. Prasasti-prasasti itu berhuruf pallawa dan berbahasa sanskerta.
Prasasti itu adalah:
a.
Prasasti
Tugu,ditemukan di
Kampung batutumbuh, Desa Tugu, dekat Tanjungpriuk, Jakarta. Dituliskan
dalam lima baris tulisan beraksara pallawa dan bahasa sanskerta.
Inskripsi tersebut isinya sebagai berikut: “Dulu (kali yang bernama)
Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempunyai
lengan kencang dan kuat, (yakni Raja Purnawarman), untuk mengalirkannya
ke laut, setelah (kali ini) sampai di istana kerajaan yang termashur.
Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnawarman yang
berkilauan-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi
panji-panji segala raja, (maka sekarang) beliau memerintahkan pula menggali
kali yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, seteleh kali itu mengalir
di tengah-tengah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pandeta Nenekda (Sang
Purnawarman). Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal delapan paroh
gelap bulan Phalguna dan selesai pada tanggal 13 paroh terang bulan Caitra,
jadi hanya dalam 21 hari saja, sedang galian itu panjangnya 6.122 busur (± 11
km). Selamatan baginya dilakukan oleh brahmana disertai persembahan 1.000
ekorsapi”.
b.
Prasasti Ciaruteun,Prasasti ini ditemukan di Kampung Muara,
Desa Ciaruteun Hilir, Cibungbulang, Bogor. Prasasti terdiri atas dua bagian,
yaitu Inskripsi A yang dipahatkan dalam empat baris tulisan berakasara pallawa
dan bahasa sanskerta, dan Inskripsi B yang terdiri dari satu baris tulisan yang
belum dapat dibaca dengan jelas. Inskripsi ini disertai pula gambar sepasang
telapak kaki. Inskripsi A isinya sebagai berikut: “ini (bekas) dua kaki,
yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnawarman, raja di
negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.
c.
Prasasti Kebon Kopi,
ditemukan di Kampung Muara, Desa Ciaruetun Hilir,
Cibungbulang, Bogor. Prasastinya dipahatkan dalam satu baris yang diapit oleh
dua buah pahatan telapak kaki gajah. Isinya sebagai berikut: “Di sini tampak
sepasang telapak kaki…… yang seperti (telapak kaki) Airawata, gajah penguasa
Taruma (yang) agung dalam……dan (?) kejayaan”.
d.
Prasasti Muara Cianten,Terletak di muara Kali Cianten,Kampung
Muara, Desa Ciaruteun Hilir,Cibungbulan, Bogor. Inskripsi ini belum dapat
dibaca. Inskripsi ini dipahatkan dalam bentuk “aksara” yang menyerupai
sulur-sulsuran, dan oleh para ahli disebut aksara ikal.
e. Prasasti Jambu (Pasir Koleangkak),
Terletak di sebuah bukit (pasir) Koleangkak, Desa Parakan Muncang, Nanggung,
Bogor. Inskripsinya dituliskan dalam dua baris tulisan dengan aksara pallawa
dan bahasa sansekerta. Isinya sebagai berikut: “Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya,adalah pemimpin manusia
yang tiada taranya, yang termashur Sri Purnawarman, yang sekali waktu
(memerintah) di Tarumanegara dan yang baju zirahnya yang terkenal tiada dapat
ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang telapak kakinya, yang senantiasa
berhasil menggempur musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri
dalam daging musuhmusuhnya”.
f.
Prasasti
Cidanghiang (Lebak),Terletak di tepi kali Cidanghiang, Desa Lebak,
Munjul,Banten Selatan. Dituliskan dalam dua baris tulisan beraksara pallawa dan
bahasa sanskerta. Isinya sebagai berikut: “Inilah (tanda) keperwiraan,
keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari Raja Dunia, Yang Mulia
Purnwarman, yang menjadi panji sekalian raja-raja:.
g. Prasasti Pasir Awi,Inskripsi ini
terdapt di sebuah bukit bernama Pasir Awi, di kawasan perbukitan Desa
Sukamakmur, Jonggol, Bogor, Inskripsi prasasti ini tidak dapat dibaca karena
inskripsi ini lebih berupa gambar (piktograf) dari pada tulisan. Di bagian atas
inskripsi terdapat sepasang telapak kaki.
Pemerintahan dan Kehidupan Masyarakat
Kerajaan Tarumanegara mulai
berkembang pada abad ke-5 M. Raja yang sangat terkenal adalah Purnawarman. Ia dikenal
sebagai raja yang gagah berani dan tegas. Ia juga dekat dengan para brahmana,
pangeran, dan rakyat. Ia raja yang jujur, adil, dan arif dalam memerintah.
Daerahnya cukup luas sampai ke daerah Banten. Kerajaan Tarumanegara telah menjalin
hubungan dengan kerajaan lain, misalnya dengan Cina. Dalam kehidupan agama,
sebagian besar masyarakat Tarumanegara memeluk agama Hindu. Sedikit yang
beragama Buddha dan masih ada yang mempertahankan agama nenek moyang
(animisme). Berdasarkan berita dari Fa-Hien, di To-lomo (Tarumanegara) terdapat
tiga agama, yakni agama Hindu, agama Buddha dan kepercayaan animisme. Raja
memeluk agama Hindu. Sebagai bukti, pada prasasti Ciaruteun ada tapak kaki raja
yang diibaratkan tapak kaki Dewa Wisnu. Sumber Cina lainnya menyatakan bahwa,
pada masa Dinasti T’ang terjadi hubungan perdagangan dengan Jawa. Barangbarang yang
diperdagangkan adalah kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah.
dituliskan pula bahwa penduduk daerah itu pandai membuat minuman keras yang terbuat
dari bunga kelapa. Rakyat Tarumanegara hidup aman dan tenteram. Pertanian
merupakan mata pencaharian pokok. Di samping itu, perdagangan juga berkembang.
Kerajaan Tarumanegara mengadakan hubungan dagang dengan Cina dan India. Untuk
memajukan bidang pertanian, raja memerintahkan pembangunan irigasi dengan cara
menggali sebuah saluran sepanjang 6112 tumbak (±11 km). Saluran itu disebut
dengan Sungai Gomati. Saluran itu selain berfungsi sebagai irigasi juga untuk
mencegah bahaya banjir.
3. Kerajaan Kalingga
Ratu Sima adalah penguasa di
Kerajaan Kalingga. Ia digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita yang tegas
dan taat terhadap peraturan yang berlaku dalam kerajaan itu. Kerajaan Kalingga
atau Holing, diperkirakan terletak di Jawa bagian tengah. Nama Kalingga berasal
dari Kalinga, nama sebuah kerajaan di India Selatan. Menurut berita Cina, di
sebelah timur Kalingga ada Po-li (Bali sekarang), di sebelah barat Kalingga
terdapat To-po-Teng (Sumatra). Sementara di sebelah utara Kalingga terdapat
Chen-la (Kamboja) dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra. Oleh karena
itu, lokasi Kerajaan Kalingga diperkirakan terletak di Kecamatan Keling, Jepara,
Jawa Tengah atau di sebelah utara Gunung Muria. Sumber utama mengenai Kerajaan
Kalingga adalah berita Cina, misalnya berita dari Dinasti T’ang. Sumber lain
adalah Prasasti Tuk Mas di lereng Gunung Merbabu. Melalui berita Cina, banyak hal
yang kita ketahui tentang perkembangan Kerajaan Kalingga dan kehidupan masyarakatnya.
Kerajaan Kalingga berkembang kira-kira abad ke-7 sampai ke-9 M.
Pemerintahan dan Kehidupan
Masyarakat. Raja yang paling terkenal pada masa Kerajaan Kalingga
adalah seorang raja wanita yang bernama Ratu Sima. Ia memerintah sekitar
tahun 674 M. Ia dikenal sebagai raja yang tegas, jujur, dan sangat bijaksana.
Hukum dilaksanakan dengan tegas dan seadil-adilnya. Rakyat patuh
terhadap semua peraturan yang berlaku. Untuk mencoba kejujuran
rakyatnya, Ratu Sima pernah mencobanya, dengan meletakkan pundi-pundi
di tengah jalan. Ternyata sampai waktu yang lama tidak ada yang mengusik
pundi-pundi itu. Akan tetapi, pada suatu hari ada anggota keluarga istana yang sedang
jalan-jalan, menyentuh kantong pundi-pundi dengan kakinya. Hal ini diketahui
Ratu Sima. Anggota keluarga istana itu dinilai salah dan harus diberi hukuman
mati. Akan tetapi atas usul persidangan para menteri, hukuman itu diperingan dengan
hukuman potong kaki. Kisah ini menunjukkan, begitu tegas dan adilnya Ratu Sima.
Ia tidak membedakan antara rakyat dan anggota kerabatnya sendiri. Agama utama
yang dianut oleh penduduk Kalingga pada umumnya adalah Buddha. Agama Buddha
berkembang pesat. Bahkan pendeta Cina yang bernama Hwi-ning datang di Kalingga
dan tinggal selama tiga tahun. Selama di Kalingga, ia menerjemahkan kitab suci
agama Buddha Hinayana ke dalam bahasa Cina. Dalam usaha menerjemahkan kitab itu
Hwi-ning dibantu oleh seorang pendeta bernama Janabadra. Kepemimpinan raja yang
adil, menjadikan rakyat hidup teratur, aman,dan tenteram. Mata pencaharian
penduduk pada umumnya adalah bertani, karena wilayah Kalingga subur untuk
pertanian. Di samping itu, penduduk juga melakukan perdagangan. Kerajaan
Kalingga mengalami kemunduran kemungkinan akibat serangan Sriwijaya yang
menguasai perdagangan. Serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan Kijen
menyingkir ke Jawa bagian timur atau mundur ke pedalaman Jawa bagian tengah
antara tahun 742 -755 M.
4.Kerajaan Sriwijaya
Sejak permulaan tarikh Masehi, hubungan
dagang antara, India dengan Kepulauan Indonesia sudah ramai. Daerah pantai
timur Sumatra menjadi jalur perdagangan yang ramai dikunjungi para pedagang.
Kemudian, muncul pusat-pusat perdagangan yang berkembang menjadi pusat
kerajaan. Kerajaan-kerajaan kecil di pantai Sumatra bagian timur sekitar abad
ke- 7, antara lain Tulangbawang, Melayu, dan Sriwijaya. Dari ketiga kerajaan
itu, yang kemudian berhasil berkembang dan mencapai kejayaannya adalah
Sriwijaya. Kerajaan Melayu juga sempatm berkembang, dengan pusatnya di Jambi. Pada
tahun 692 M, Sriwijaya mengadakan ekspansi ke daerah sekitar Melayu. Melayu
dapat ditaklukkan dan berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Letak pusat Kerajaan
Sriwijaya ada berbagai pendapat. Ada yang berpendapat bahwa pusat Kerajaan
Sriwijaya ada di Palembang, ada yang berpendapat di Jambi, bahkan ada yang
berpendapat di luar Indonesia. Akan tetapi, pendapat yang banyak didukung oleh
para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya berlokasi di Palembang, di dekat pantai dan
di tepi Sungai Musi. Ketika pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang mulai menunjukkan
kemunduran, Sriwijaya berpindah ke Jambi. Sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya
yang penting adalah prasasti. Prasasti-prasasti itu ditulis dengan huruf
pallawa. Bahasa yang dipakai Melayu Kuno. Beberapa prasasti itu antara lain
sebagai berikut.
1. Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan
di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang. Prasasti ini berangka tahun 605 Saka
(683 M). Isinya antara lain menerangkan bahwa seorang bernama Dapunta Hyang
mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan menggunakan perahu. Ia
berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara 20.000 personel.
2. Prasasti Talang Tuo
Prasasti Talang Tuo ditemukan di
sebelah barat Kota Palembang di daerah Talang Tuo. Prasasti ini berangka tahun
606 Saka (684 M). Isinya menyebutkan tentang pembangunan sebuah taman yang
disebut Sriksetra. Taman ini dibuat oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga. 3.
Prasasti Telaga Batu Prasasti Telaga Batu ditemukan di Palembang.
Prasasti ini tidak berangka tahun. Isinya terutama tentang kutukankutukan
yang menakutkan bagi mereka yang berbuat kejahatan.
3.Prasasti Kota Kapur
Prasasti Kota Kapur ditemukan di
Pulau Bangka, berangka tahun 608 Saka (656 M). Isinya terutama
permintaan kepada para dewa untuk menjaga kedatuan Sriwijaya, dan
menghukum setiap orang yang bermaksud jahat.
5. Prasasti Karang Berahi
Prasasti Karang Berahi ditemukan
di Jambi, berangka tahun 608 saka (686 M). Isinya sama dengan isi Prasasti Kota
Kapur. Beberapa prasasti yang lain, yakni Prasasti Ligor berangka tahun 775 M
ditemukan di Ligor, Semenanjung Melayu, dan Prasasti Nalanda di India Timur. Di
samping prasasti-prasasti tersebut, berita Cina juga merupakan sumber sejarah
Sriwijaya yang penting. Misalnya berita dari I-tsing, yang pernah tinggal di
Sriwijaya.
Perkembangan Kerajaan
Sriwijaya
Ada beberapa faktor yang
mendorong perkembangan Sriwijaya antara lain:
a. Letak geografis dari Kota
Palembang. Palembang sebagai pusat pemerintahan terletak di tepi Sungai Musi.
Di depan muara Sungai Musi terdapat pulau-pulau yang berfungsi sebagai
pelindung pelabuhan di Muara Sungai Musi. Keadaan seperti ini sangat tepat
untuk kegiatan pemerintahan dan pertahanan. Kondisi itu pula menjadikan Sriwijaya
sebagai jalur perdagangan internasional dari India ke Cina, atau sebaliknya.
Juga kondisi sungai-sungai yang besar, perairan laut yang cukup tenang, serta
penduduknya yang berbakat sebagai pelaut ulung.
b. Runtuhnya Kerajaan Funan di
Vietnam akibat serangan Kamboja. Hal ini telah memberi kesempatan Sriwijaya untuk
cepat berkembang sebagai negara maritim. Perkembangan Politik dan
Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya mulai berkembang pada abad ke-7. Pada awal
perkembangannya, raja disebut dengan Dapunta Hyang. Dalam Prasasti Kedukan
Bukit dan Talang. Tuo telah ditulis sebutan Dapunta Hyang. Pada abad ke-7,
Dapunta Hyang banyak melakukan usaha perluasan daerah. Daerah-daerah yang
berhasil dikuasai antara lainsebagai berikut.
a. Tulang-Bawang yang terletak di
daerah Lampung.
b.Daerah Kedah yang terletak di
pantai barat Semenanjung Melayu. Daerah ini sangat penting artinya bagi usaha
pengembangan perdagangan dengan India. Menurut I-tsing, penaklukan Sriwijaya
atas Kedah berlangsung antara tahun 682-685 M.
c. Pulau Bangka yang terletak di
pertemuan jalan perdagangan internasional, merupakan daerah yang sangat
penting. Daerah ini dapat dikuasai Sriwijaya pada tahun 686 M berdasarkan
Prasasti Kota Kapur. Sriwijaya juga diceritakan berusaha menaklukkan Bhumi Java
yang tidak setia kepada Sriwijaya. Bhumi Java yang dimaksud adalah Jawa,
khususnya Jawa bagian barat.
d. Daerah Jambi terletak di tepi
Sungai Batanghari. Daerah ini memiliki kedudukan yang penting, terutama untuk
memperlancar perdagangan di pantai timur Sumatra. Penaklukan ini dilaksanakan kira-kira
tahun 686 M (Prasasti Karang Berahi).
e. Tanah Genting Kra merupakan
tanah genting bagian utara Semenanjung Melayu. Kedudukan Tanah Genting Kra
sangat penting. Jarak antara pantai barat dan pantai timur di tanah genting sangat
dekat, sehingga para pedagang dari Cina berlabuh dahulu di pantai timur dan
membongkar barang dagangannya untuk diangkut dengan pedati ke pantai barat.
Kemudian mereka berlayar ke India. Penguasaan Sriwijaya atas Tanah Genting Kra
dapat diketahui dari Prasasti Ligor yang berangka tahun 775 M.
f. Kerajaan Kalingga dan Mataram
Kuno. Menurut berita Cina, diterangkan adanya serangan dari barat, sehingga
mendesak Kerajaan Kalingga pindah ke sebelah timur. Diduga yang melakukan serangan
adalah Sriwijaya. Sriwijaya ingin menguasai Jawa bagian tengah karena pantai utara
Jawa bagian tengah juga merupakan jalur perdagangan yang penting. Sriwijaya
terus melakukan perluasan daerah, sehingga Sriwijaya menjadi kerajaan yang
besar. Untuk lebih memperkuat pertahanannya, pada tahun 775 M dibangunlah
sebuah pangkalan di daerah Ligor. Waktu itu yang menjadi raja adalah
Darmasetra. Raja yang terkenal dari Kerajaan Sriwijaya adalah Balaputradewa. Ia
memerintah sekitar abad ke-9 M. Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya berkembang
pesat dan mencapai zaman keemasan. Balaputradewa adalah keturunan dari Dinasti
Syailendra, yakni putra dari Raja Samaratungga dengan Dewi Tara dari Sriwijaya.
Hal tersebut diterangkan dalam Prasasti Nalanda. Balaputradewa adalah seorang
raja yang besar di Sriwijaya. Raja Balaputradewa menjalin hubungan erat dengan
Kerajaan Benggala yang saat itu diperintah oleh Raja Dewapala Dewa. Raja ini
menghadiahkan sebidang tanah kepada Balaputradewa untuk pendirian sebuah asrama
bagi para pelajar dan siswa yang sedang belajar di Nalanda, yang dibiayai oleh Balaputradewa,
sebagai “dharma”. Hal itu tercatat dengan baik dalam Prasasti Nalanda, yang
saat ini berada di Universitas Nawa Nalanda, India. Bahkan bentuk asrama itu mempunyai
kesamaan arsitektur dengan Candi Muara Jambi, yang berada di Provinsi Jambi saat
ini. Hal tersebut menandakan Sriwijaya memperhatikan ilmu pengetahuan, terutama
pengetahuan agama Buddha dan bahasa Sanskerta bagi generasi mudanya. Pada tahun
990 M yang menjadi Raja Sriwijaya adalah Sri Sudamaniwarmadewa. Pada masa
pemerintahan raja itu terjadi serangan Raja Darmawangsa dari Jawa bagian Timur.
Akan tetapi, serangan itu berhasil digagalkan oleh tentara Sriwijaya. Sri Sudamaniwarmadewa
kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Marawijayottunggawarman. Pada
masa pemerintahan Marawijayottunggawarman, Sriwijaya membina hubungan dengan Raja
Rajaraya I dari Colamandala. Pada masa itu, Sriwijaya terus mempertahankan
kebesarannya. Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan Sriwijaya cukup Luas.
Daerah-daerah kekuasaannya antara lain Sumatra dan pulau-pulau sekitar Jawa
bagian barat, sebagian Jawa bagian tengah, sebagian Kalimantan, Semenanjung
Melayu, dan hampir seluruh perairan Nusantara. Bahkan Muhammad Yamin menyebutkan
Sriwijaya sebagai negara nasional yang pertama. kepada seorang Rakryan (wakil
raja di daerah). Dalam hal ini Sriwijaya sudah mengenal struktur pemerintahan.
Perkembangan Ekonomi,Pada
mulanya penduduk Sriwijaya hidup dengan bertani. Akan tetapi karena Sriwijaya
terletak di tepi Sungai Musi dekat pantai, maka perdagangan menjadi cepat
berkembang. Perdagangan kemudian menjadi mata pencaharian pokok.
Perkembangan perdagangan didukung oleh keadaan dan letak Sriwijaya yang
strategis. Sriwijaya terletak di persimpangan jalan perdagangan
internasional. Para pedagang Cina yang akan ke India singgah dahulu di
Sriwijaya, begitu juga para pedagang dan India yang akan ke Cina. Di
Sriwijaya para pedagang melakukan bongkar muat barang dagangan. Dengan
demikian, Sriwijaya semakin ramai dan berkembang menjadi pusat
perdagangan. Sriwijaya mulai menguasai perdagangan nasional maupun
internasional di kawasan perairan Asia Tenggara. Perairan di Laut
Natuna, Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa berada di bawah
kekuasaan Sriwijaya. Tampilnya Sriwijaya sebagai pusat perdagangan,
memberikan kemakmuran bagi rakyat dan negara Sriwijaya. Kapal-kapal yang
singgah dan melakukan bongkar muat, harus membayar pajak. Dalam kegiatan
perdagangan, Sriwijaya mengekspor gading, kulit, dan beberapa jenis
binatang liar, sedangkan barang impornya antara lain beras,
rempah-rempah, kayu manis, kemenyan, emas, gading, dan binatang. Perkembangan
tersebut telah memperkuat kedudukan Sriwijaya sebagai kerajaan
maritim. Kerajaan maritim adalah kerajaan yang mengandalkan
perekonomiannya dari kegiatan perdagangan dan hasil-hasil laut. Untuk
memperkuat kedudukannya, Sriwijaya membentuk armada angkatan laut yang
kuat. Melalui armada angkatan laut yang kuat Sriwijaya mampu
mengawasi perairan di Nusantara. Hal ini sekaligus merupakan jaminan
keamanan bagi para pedagang yang ingin berdagang dan berlayar di
wilayah perairan Sriwijaya. Kehidupan beragama di Sriwijaya sangat
semarak. Bahkan Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha Mahayana di seluruh
wilayah Asia Tenggara. Diceritakan oleh I-tsing, bahwa di Sriwijaya
tinggal ribuan pendeta dan pelajar agama Buddha. Salah seorang pendeta
Buddha yang terkenal adalah Sakyakirti. Banyak pelajar asing yang datang
ke Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta. Kemudian mereka belajar
agama Buddha di Nalanda, India. Antara tahun 1011 - 1023 datang seorang
pendeta agama Buddha dari Tibet bernama Atisa untuk lebih memperdalam
pengetahuan agama Buddha. Dalam kaitannya dengan perkembangan agama dan
kebudayaan Buddha, di Sriwijaya ditemukan beberapa peninggalan.
Misalnya, Candi Muara Takus, yang ditemukan dekat Sungai Kampar di
daerah Riau. Kemudian di daerah Bukit Siguntang ditemukan arca Buddha.
Pada tahun 1006 Sriwijaya juga telah membangun wihara sebagai tempat
suci agama Buddha di Nagipattana, India Selatan. Hubungan Sriwijaya
dengan India Selatan waktu itu sangat erat. Bangunan lain yang sangat
penting adalah Biaro Bahal yang ada di Padang Lawas, Tapanuli Selatan.
Di tempat ini pula terdapat bangunan wihara. Kerajaan Sriwijaya
akhirnya mengalami kemunduran karena beberapa hal antara lain :
a. Keadaan sekitar Sriwijaya berubah,
tidak lagi dekat dengan pantai. Hal ini disebabkan aliran Sungai Musi, Ogan,
dan Komering banyak membawa lumpur. Akibatnya. Sriwijaya tidak baik untuk
perdagangan.
b. Banyak daerah kekuasaan Sriwijaya
yang melepaskan diri. Hal ini disebabkan terutama karena melemahnya angkatan laut
Sriwijaya, sehingga pengawasan semakin sulit.
c. Dari segi politik, beberapa
kali Sriwijaya mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan lain. Tahun 1017 M Sriwijaya
mendapat serangan dari Raja Rajendracola dari Colamandala, namun Sriwijaya
masih dapat bertahan. Tahun 1025 serangan itu diulangi, sehingga Raja Sriwijaya,
Sri Sanggramawijayattunggawarman ditahan oleh pihak Kerajaan Colamandala. Tahun
1275, Raja Kertanegara dari Singhasari melakukan Ekspedisi Pamalayu. Hal itu
menyebabkan daerah Melayu lepas. Tahun 1377 armada angkatan laut Majapahit menyerang
Sriwijaya. Serangan ini mengakhiri riwayat Kerajaan Sriwijaya.
5. Kerajaan Mataram Kuno
Pada pertengahan abad ke-8 di
Jawa bagian tengah berdiri sebuah kerajaan baru. Kerajaan itu kita kenal dengan
nama Kerajaan Mataram Kuno. Mengenai letak dan pusat Kerajaan Mataram Kuno tepatnya
belum dapat dipastikan. Ada yang menyebutkan pusat kerajaan di Medang dan
terletak di Poh Pitu. Sementara itu letak Poh Pitu sampai sekarang belum jelas.
Keberadaan lokasi kerajaan itu dapat diterangkan berada di sekeliling
pegunungan, dan sungaisungai. Di sebelah utara terdapat Gunung Merapi, Merbabu,
Sumbing, dan Sindoro; di sebelah barat terdapat Pegunungan Serayu; di sebelah
timur terdapat Gunung Lawu, serta di sebelah selatan berdekatan dengan Laut
Selatan dan Pegunungan Seribu. Sungai-sungai yang ada, misalnya Sungai
Bogowonto, Elo, Progo, Opak, dan Bengawan Solo. Letak Poh Pitu mungkin di
antara Kedu sampai sekitar Prambanan. Untuk mengetahui perkembangan Kerajaan
Mataram Kuno dapat digunakan sumber yang berupa prasasti. Ada beberapaprasasti
yang berkaitan dengan Kerajaan Mataram Kuno di antaranya Prasasti Canggal,
Prasasti Kalasan, Prasasti Klura, Prasasti Kedu atau Prasasti Balitung. Di
samping beberapa prasasti tersebut, sumber sejarah untuk Kerajaan Mataram Kuno
juga berasal dari berita Cina.
Perkembangan Pemerintahan,Sebelum
Sanjaya berkuasa di Mataram Kuno, di Jawa sudah berkuasa seorang raja bernama
Sanna. Menurut prasasti Canggal yang berangka tahun 732 M, diterangkan bahwa
Raja Sanna telah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya adalah putra
Sanaha, saudara perempuan dari Sanna. Dalam Prasasti Sojomerto yang
ditemukan di Desa Sojomerto, Kabupaten Batang, disebut nama Dapunta Syailendra
yang beragama Syiwa (Hindu). Diperkirakan Dapunta Syailendra berasal
dari Sriwijaya dan menurunkan Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa
bagian tengah. Dalam hal ini Dapunta Syailendra diperkirakan yang menurunkan
Sanna, sebagai raja di Jawa. Sanjaya tampil memerintah Kerajaan Mataram
Kuno pada tahun 717 - 780 M. Ia melanjutkan kekuasaan Sanna. Sanjaya
kemudian melakukan penaklukan terhadap raja-raja kecil bekas bawahan
Sanna yang melepaskan diri. Setelah itu, pada tahun 732 M Raja Sanjaya
mendirikan bangunan suci sebagai tempat pemujaan. Bangunan ini berupa lingga
dan berada di atas Gunung Wukir (Bukit Stirangga). Bangunan suci itu merupakan
lambang keberhasilan Sanjaya dalam menaklukkan raja-raja lain. Raja Sanjaya
bersikap arif, adil dalam memerintah, dan memiliki pengetahuan luas. Para
pujangga dan rakyat hormat kepada rajanya. Oleh karena itu, di bawah pemerintahan
Raja Sanjaya, kerajaan menjadi aman dan tenteram. Rakyat hidup makmur. Mata
pencaharian penting adalah pertanian dengan hasil utama padi. Sanjaya juga
dikenal sebagai raja yang paham akan isi kitab-kitab suci. Bangunan suci
dibangun oleh Sanjaya untuk pemujaan lingga di atas Gunung Wukir, sebagai
lambang telah ditaklukkannya raja-raja kecil di sekitarnya yang dulu mengakui
kemaharajaan Sanna. Setelah Raja Sanjaya wafat, ia digantikan oleh putranya bernama
Rakai Panangkaran. Panangkaran mendukung adanya perkembangan agama Buddha.
Dalam Prasasti Kalasan yang berangka tahun 778, Raja Panangkaran telah
memberikan hadiah tanah dan memerintahkan membangun sebuah candi untuk Dewi
Tara dan sebuah biara untuk para pendeta agama Buddha. Tanah dan bangunan
tersebut terletak di Kalasan. Prasasti Kalasan juga menerangkan bahwa Raja
Panangkaran disebut dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai
Panangkaran. Raja Panangkaran kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke
arah timur. Raja Panangkaran dikenal sebagai penakluk yang gagah berani bagi
musuh-musuh kerajaan. Daerahnya bertambah luas. Ia juga disebut sebagai permata
dari Dinasti Syailendra Setelah Samaratungga wafat, anaknya dengan Dewi Tara
yang bernama Balaputradewa menunjukkan sikap menentang terhadap Pikatan.
Kemudian terjadi perang perebutan kekuasaan antara Pikatan dengan
Balaputradewa. Dalam perang ini Balaputradewa membuat benteng pertahanan di
perbukitan di sebelah selatan Prambanan. Benteng ini sekarang kira kenal dengan
Candi Boko. Dalam pertempuran, Balaputradewa terdesak dan melarikan diri ke
Sumatra. Balaputradewa kemudian menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan
Mataram Kuno daerahnya bertambah luas. Kehidupan agama berkembang pesat tahun
856 Rakai Pikatan turun takhta dan digantikan oleh Kayuwangi atau Dyah
Lokapala. Kayuwangi kemudian digantikan oleh Dyah Balitung. Raja Balitung merupakan
raja yang terbesar. Ia memerintah pada tahun 898 - 911 M dengan gelar Sri
Maharaja Rakai Wafukura Dyah Balitung Sri Dharmadya Mahasambu. Pada
pemerintahan Balitung bidangbidang politik, pemerintahan, ekonomi, agama, dan
kebudayaan mengalami kemajuan. Ia telah membangun Candi Prambanan sebagai candi
yang anggun dan megah. Relief-reliefnya sangat indah. Sesudah pemerintahan
Balitung berakhir, Kerajaan Mataram mulai mengalami kemunduran. Raja yang
berkuasa setelah Balitung adalah Daksa, Tulodong, dan Wawa. Beberapa faktor
yang menyebabkan kemunduran Mataram Kuno antara lain adanya bencana alam dan
ancaman dari musuh yaitu Kerajaan Sriwijaya. mengalami kemajuan.
Kekuasaan Dinasti Isyana Pertentangan
di antara keluarga Mataram, tampaknya terus berlangsung hingga masa
pemerintahan Mpu Sindok pada tahun 929 M. Pertikaian yang tidak pernah
berhenti menyebabkan Mpu Sindok memindahkan ibu kota kerajaan dari
Medang ke Daha (Jawa Timur) dan mendirikan dinasti baru yaitu Dinasti
Isyanawangsa. Di samping karena pertentangan keluarga, pemindahan pusat
kerajaan juga dikarenakan kerajaan mengalami kehancuran akibat letusan
Gunung Merapi. Berdasarkan prasasti, pusat pemerintahan Keluarga Isyana
terletak di Tamwlang. Letak Tamwlang diperkirakan dekat Jombang, sebab
di Jombang masih ada desa yang namanya mirip, yakni desa Tambelang.
Daerah kekuasaannya meliputi Jawa bagian timur, Jawa bagian tengah, dan
Bali. Setelah Mpu Sindok meninggal, ia digantikan oleh anak perempuannya
bernama Sri Isyanatunggawijaya. Ia naik takhta dan kawin dengan Sri
Lokapala. Dari perkawinan ini lahirlah putra yang bernama
Makutawangsawardana. Makutawangsawardana naik takhta menggantikan
ibunya. Kemudian pemerintahan dilanjutkan oleh Dharmawangsa.
Dharmawangsa Tguh yang memeluk agama Hindu aliran Waisya. Pada masa
pemerintahannya, Dharmawangsa Tguh memerintahkan untuk menyadur kitab
Mahabarata dalam bahasa Jawa Kuno. Setelah Dharmawangsa Tguh turun
takhtah ia digantikan oleh Raja Airlangga, yang saat itu usianya masih
16 tahun. Hancurnya kerajaan Dharmawangsa menyebabkan Airlangga
berkelana ke hutan. Selama di hutan ia hidup bersama pendeta sambil
mendalami agama. Airlangga kemudian dinobatkan oleh pendeta agama Hindu
dan Buddha sebagai raja. Begitulah kehidupan agama pada masa Mataram
Kuno. Meskipun mereka berbeda aliran dan keyakinan, penduduk Mataram
Kuno tetap menghargai perbedaan yang ada. Setelah dinobatkan sebagai
raja, Airlangga segera bmengadakan pemulihan hubungan baik dengan Sriwijaya,
bahkan membantu Sriwijaya ketika diserang Raja Colamandala dari India Selatan.
Pada tahun 1037 M, Airlangga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang
pernah dikuasai oleh Dharmawangsa, meliputi seluruh Jawa Timur. Airlangga
kemudian memindahkan ibu kota kerajaannya dari Daha ke Kahuripan. Pada tahun
1042, Airlangga mengundurkan diri dari takhta kerajaan, lalu hidup sebagai
pertapa dengan nama Resi Gentayu (Djatinindra). Menjelang akhir pemerintahannya
Airlangga menyerahkan kekuasaanya pada putrinya Sangrama Wijaya Tungga- Dewi.
Namun, putrinya itu menolak dan memilih untuk menjadi seorang petapa dengan
nama Ratu Giriputri. Airlangga memerintahkan Mpu Bharada untuk membagi dua
kerajaan. Kerajaan itu adalah Kediri dan Janggala. Hal itu dilakukan untuk
mencegah terjadinya perang saudara di antara kedua putranya yang lahir dari
selir. Kerajaan Janggala di sebelah timur diberikan kepada putra sulungnya yang
bernama Garasakan (Jayengrana), dengan ibu kota di Kahuripan (Jiwana).
Wilayahnya meliputi daerah sekitar Surabaya sampai Pasuruan, dan Kerajaan Panjalu
(Kediri). Kerajaan Kediri di sebelah barat diberikan kepada putra bungsunya
yang bernama Samarawijaya (Jayawarsa) dengan ibu kota di Kediri (Daha),
meliputi daerah sekitar Kediri dan Madiun. Kerajaan Kediri adalah kerajaan
pertama yang mempunyai sistem administrasi kewilayahan negara berjenjang.
Hierarki kewilayahan dibagi atas tiga jenjang. Struktur paling bawah dikenal dengan
thani (desa). Desa ini terbagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil
lagi yang dipimpin oleh seorang duwan. Setingkat lebih tinggi di atasnya
disebut wisaya, yaitu sekumpulan dari desa-desa. Tingkatan paling tinggi
yaitu negara atau kerajaan yang disebut dengan bhumi.
6. Kerajaan Kediri
Kehidupan politik pada bagian
awal di Kerajaan Kediri ditandai dengan perang saudara antara Samarawijaya yang
berkuasa di Panjalu dan Panji Garasakan yang berkuasa di Jenggala. Mereka tidak
dapat hidup berdampingan. Pada tahun 1052 M terjadi peperangan perebutan
kekuasaan di antara kedua belah pihak. Pada tahap pertama Panji Garasakan dapat
mengalahkan Samarawijaya, sehingga Panji Garasakan berkuasa. Di Jenggala kemudian
berkuasa raja-raja pengganti Panji Garasakan. Tahun 1059 M yang memerintah
adalah Samarotsaha. Akan tetapi setelah itu tidak terdengar berita mengenal
Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Baru pada tahun 1104 M tampil Kerajaan Panjalu
sebagai rajanya Jayawangsa. Kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan
Kediri dengan ibu kotanya di Daha. Tahun 1117 M Bameswara tampil sebagai Raja
Kediri Prasasti yang ditemukan, antara lain Prasasti Padlegan (1117 M) dan Panumbangan
(1120 M). Isinya yang penting tentang pemberian status perdikan untuk
beberapa desa. Pada tahun 1135 M tampil raja yang sangat terkenal, yakni Raja
Jayabaya. Ia meninggalkan tiga prasasti penting, yakni Prasasti Hantang atau
Ngantang (1135 M), Talan (1136 M) dan Prasasti Desa Jepun (1144 M). Prasasti
Hantang memuat tulisan panjalu jayati, artinya panjalu menang. Hal itu untuk
mengenang kemenangan Panjalu atas Jenggala. Jayabaya telah berhasil mengatasi
berbagai kekacauan di kerajaan. Di kalangan masyarakat Jawa, nama Jayabaya
sangat dikenal karena adanya Ramalan atau Jangka Jayabaya. Pada masa pemerintahan
Jayabaya telah digubah Kitab Baratayuda oleh EmpuSedah dan kemudian dilanjutkan
oleh Empu Panuluh.
Perkembangan Politik, Sosial,
dan Ekonomi,Sampai masa awal pemerintahan Jayabaya, kekacauan akibat pertentangan
dengan Janggala terus berlangsung.Baru pada tahun 1135 M Jayabaya berhasil
memadamkan kekacauan itu. Sebagai bukti, adanya kata-kata panjalu jayati pada
prasasti Hantang. Setelah kerajaan stabil, Jayabaya mulai menata dan
mengembangkan kerajaannya. Kehidupan Kerajaan Kediri menjadi teratur. Rakyat
hidup makmur. Mata pencaharian yang penting adalah pertanian dengan hasil
utamanya padi. Pelayaran dan perdagangan juga berkembang.
Hal ini ditopang oleh Angkatan
Laut Kediri yang cukup tangguh. Armada
laut Kediri mampu menjamin keamanan perairan Nusantara. Di Kediri telah ada
Senopati Sarwajala (panglima angkatan laut). Bahkan Sriwijaya yang
pernah mengakui kebesaran Kediri, yang telah mampu mengembangkan
pelayaran dan perdagangan. Barang perdagangan di Kediri antara lain
emas, perak, gading, kayu cendana, dan pinang. Kesadaran rakyat tentang
pajak sudah tinggi. Rakyat menyerahkan barang atau sebagian hasil
buminya kepada pemerintah. Menurut berita Cina, dan kitab Ling-wai-tai-ta
diterangkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari orang-orang memakai
kain sampai di bawah lutut. Rambutnya diurai. Rumah-rumah mereka bersih
dan teratur, lantainya ubin yang berwarna kuning dan hijau. Dalam perkawinan,
keluarga pengantin wanita menerima mas
kawin berupa emas. Rajanya berpakaian sutera, memakai sepatu, dan
perhiasan emas. Rambutnya disanggul ke atas. Kalau bepergian, Raja naik
gajah atau kereta yang diiringi oleh 500 sampai 700 prajurit. Di
bidang kebudayaan, yang menonjol adalah perkembangan seni sastra dan pertunjukan
wayang. Di Kediri dikenal adanya wayang panji. Beberapa
karya sastra yang terkenal, sebagai berikut.
1. Kitab
Baratayuda
Kitab Baratayudha ditulis pada zaman Jayabaya, untuk memberikan
gambaran terjadinya perang saudara antara Panjalu melawan Jenggala.
Perang saudara itu digambarkan dengan perang antara Kurawa dengan Pandawa yang masingmasing merupakan keturunan Barata.
2. Kitab Kresnayana
Kitab Kresnayana ditulis oleh Empu Triguna pada zaman RajaJayaswara. Isinya mengenai
perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.
3. Kitab Smaradahana
Kitab Smaradahana ditulis pada zaman Raja Kameswari oleh Empu Darmaja. Isinya menceritakan tentang
sepasang suami istri Smara dan Rati yang menggoda Dewa Syiwa yang
sedang bertapa. Smara dan Rail kena kutuk dan mati terbakar
oleh api (dahana) karena
kesaktian Dewa Syiwa. Akan tetapi, kedua suami istri itu dihidupkan lagi dan
menjelma sebagai Kameswara dan
permaisurinya.
4. Kitab Lubdaka
Kitab Lubdaka ditulis oleh Empu Tanakung pada
zaman Raja Kameswara. Isinya tentang seorang pemburu bernama Lubdaka. Ia sudah
banyak membunuh. Pada suatu ketika ia mengadakan pemujaan yang istimewa
terhadap Syiwa, sehingga rohnya yang semestinya masuk neraka, menjadimasuk surga.
Raja yang terakhir di Kerajaan Kediri adalah Kertajaya atau Dandang
Gendis. Pada masa pemerintahannya, terjadi pertentangan antara raja dan para
pendeta atau kaum brahmana, karena Kertajaya berlaku sombong dan berani
melanggar adat. Hal ini memperlemah pemerintahan di Kediri.Para brahmana
kemudian mencari perlindungan kepada Ken Arok yang merupakan penguasa di
Tumapel. Pada tahun 1222 M, Ken Arok dengan dukungan kaum brahmana menyerang
Kediri. Kediri dapat dikalahkan oleh Ken Arok.
7. Kerajaan Singhasari
Raja-Raja yang Memerintah
Singhasari
a. Ken Arok (1222 – 1227 M) Setelah berakhirnya Kerajaan Kediri, kemudian
berkembang Kerajaan Singhasari. Pusat Kerajaan Singhasari kira-kira
terletak di dekat kota Malang, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan
oleh Ken Arok. Ken Arok berhasil tampil sebagai raja, walaupun ia
berasal dari kalangan rakyat biasa. Menurut kitab Pararaton, Ken
Arok adalah anak seorang petani dari Desa Pangkur, di sebelah
timur Gunung Kawi, daerah Malang. Ibunya bernama Ken Endok. Diceritakan,
bahwa pada waktu masih bayi, Ken Arok diletakkan oleh ibunya di sebuah
makam. Bayi ini kemudian ditemukan oleh seorang pencuri, bernama
Lembong. Akibat dari didikan dan lingkungan keluarga pencuri, maka Ken
Arok tumbuh menjadi seorang penjahat yang sering menjadi buronan
pemerintah Kerajaan Kediri. Suatu ketika Ken Arok berjumpa dengan
pendeta Lohgawe. Ken Arok mengatakan ingin menjadi orang
baik-baik. Kemudian dengan perantaraan Lohgawe, Ken Arok diabdikan
kepada seorang Akuwu (bupati) Tumapel, bernama Tunggul Ametung.
Setelah beberapa lama mengabdi di Tumapel, Ken Arok mempunyai
keinginan untuk memperistri Ken Dedes, yang sudah menjadi istri Tunggul
Ametung. Kemudian timbul niat buruk dari Ken Arok untuk membunuh
Tunggul Ametung agar Ken Dedes dapat diperistri olehnya. Ternyata benar,
Tunggul Ametung dapat dibunuh oleh Ken Arok dengan keris Empu Gandring.
Setelah Tunggul Ametung terbunuh, Ken Arok menggantikan sebagai penguasa di
Tumapel dan memperistri Ken Dedes. Pada waktu diperistri Ken Arok, Ken Dedes sudah
mengandung tiga bulan, hasil perkawinan dengan Tunggul Ametung. Pada waktu itu
Tumapel hanya daerah bawahan Raja Kertajaya dari Kediri. Ken Arok ingin menjadi
raja, maka ia merencanakan menyerang Kediri. Pada tahun 1222 M Ken Arok atas
dukungan para pendeta melakukan serangan ke Kediri. Raja Kertajaya dapat ditaklukkan
oleh Ken Arok dalam pertempurannya di Ganter, dekat Pujon, Malang. Setelah
Kediri berhasil ditaklukkan, maka seluruh wilayah Kediri dipersatukan dengan
Tumapel dan lahirlah Kerajaan Singhasari. Setelah berdiri Kerajaan Singhasari,
Ken Arok tampil sebagai raja pertama. Ken Arok sebagai raja bergelar Sri
Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Ken Arok memerintah selama lima
tahun. Pada tahun 1227 M Ken Arok dibunuh oleh seorang pengalasan atau pesuruh
dan Batil, atas perintah Anusapati. Anusapati adalah putra Ken Dedes
dengan Tunggul Ametung. Jenazah Ken Arok dicandikan di Kagenengan dalam
bangunan perpaduan Syiwa-Buddha. Ken Arok meninggalkan beberapa putra. Bersama
Ken Umang, Ken Arok memiliki empat putra, yaitu Panji Tohjoyo, Panji Sudatu,
Panji Wregola, dan Dewi Rambi. Bersama Ken Dedes, Ken Arok mempunyai putra bernama
Mahesa Wongateleng.
b. Anusapati
Tahun 1227 M Anusapati naik takhta Kerajaan Singhasari. Ia memerintah
selama 21 tahun. Akan tetapi, ia belum banyak berbuatmuntuk pembangunan
kerajaan. Lambat laun berita tentang pembunuhan Ken Arok sampai pula kepada
Tohjoyo (putra Ken Arok). Oleh karena ia mengetahui pembunuh ayahnya adalah
Anusapati, maka Tohjoyo ingin membalas dendam, yaitu membunuh Anusapati.
Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati memiliki kesukaan menyabung ayam maka ia
mengajak Anusapati untuk menyabung ayam. Pada saat menyabung ayam, Tohjoyo
berhasil membunuh Anusapati. Anusapati dicandikan di Candi Kidal dekat Kota Malang
sekarang. Anusapati meninggalkan seorang putra bernama Ronggowuni.
c. Tohjoyo (1248 M)
Setelah berhasil membunuh Anusapati, Tohjoyo naik takhta. Masa
pemerintahannya sangat singkat, Ronggowuni yang merasa berhak atas takhta
kerajaan, menuntut takhta kepada Tohjoyo. Ronggowuni dalam hal ini dibantu oleh
Mahesa Cempaka, putra dari Mahesa Wongateleng. Menghadapi tuntutan ini, maka
Tohjoyo mengirim pasukannya di bawah Lembu Ampal untuk melawan Ronggowuni.
Kemudian terjadi pertempuran antara pasukan Tohjoyo dengan pengikut Ronggowuni.
Dalam pertempuran tersebut Lembu Ampal berbalik memihak Ronggowuni. Serangan pengikut
Ronggowuni semakin kuat dan berhasil menduduki istana Singhasari. Tohjoyo
berhasil meloloskan diri dan akhirnya meninggal di daerah Katang Lumbang akibat
luka-luka yang dideritanya.
d. Ronggowuni (1248 - 1268 M)
Ronggowuni naik takhta Kerajaan Singhasari tahun 1248 M. Ronggowuni
bergelar Sri Jaya Wisnuwardana. Dalam memerintah ia didampingi oleh
Mahesa Cempaka yang berkedudukan sebagai Ratu Anggabaya. Mahesa Cempaka
bergelar Narasimhamurti. Disamping itu, pada tahun 1254 M Wisnuwardana
juga mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai raja muda atau
Yuwaraja. Pada saat itu Kertanegara masih sangat muda. Cempaka hidup
dalam keadaan aman dan tenteram. Rakyat hidup dengan bertani dan berdagang.
Kehidupan rakyat juga mulai terjamin. Raja memerintahkan untuk membangun
benteng pertahanan di Canggu Lor. Tahun 1268 M, Ronggowuni meninggal
dunia dan dicandikan di dua tempat, yaitu sebagai Syiwa di Waleri dan
sebagai Buddha Amogapasa di Jajagu. Jajagu kemudian
dikenal dengan Candi Jago. Bentuk Candi Jago sangat menarik, yaitu kaki candi
bertingkat tiga dan tersusun berundak-undak. Reliefnya datar dan gambar orangnya
menyerupai wayang kulit di Bali. Tokoh satria selalu diikuti dengan punakawan.
Tidak lama kemudian Mahesa Cempaka pun meninggal dunia. Ia dicandikan di Kumeper
dan Wudi Kucir.
e. Kertanegara (1268 - 1292 M)
Tahun 1268 M Kertanegara naik takhta menggantikan Ronggowuni. Ia bergelar
Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Kertanegara merupakan raja yang
paling terkenal di Singhasari. Ia bercita-cita, Singhasari menjadi kerajaan
yang besar. Untuk mewujudkan cita-citanya, maka Kertanegara melakukan berbaga usaha.
Perluasan Daerah Singhasari
Kertanegara menginginkan wilayah Singhasari hingga meliputi seluruh
Nusantara. Beberapa daerah berhasil ditaklukkan, misalnya Bali, Kalimantan
Barat Daya, Maluku, Sunda, dan Pahang. Penguasaan daerah-daerah di luar Jawa yang
merupakan pelaksanaan politik luar negeri bertujuan untuk mengimbangi pengaruh Kubilai
Khan dari Cina. Pada tahun 1275 M Raja Kertanegara mengirimkan Ekspedisi
Pamalayu di bawah pimpinan Mahesa Anabrang (Kebo Anabrang).
Sasaran dari ekspedisi ini untuk menguasai Sriwijaya. Akan tetapi, untuk menguasainya
harus melaluidaerah sekitarnya termasuk bersahabat dan menanamkan pengaruh
Singhasari di Melayu. Sebagai tanda persahabatan, Kertanegara menghadiahkan
patung Amogapasa kepada penguasa Melayu. Ekspedisi Pamalayu diharapkan
akan menggoyahkan Sriwijaya. Dalam rangka memperkuat politik luar negeranya,
Kertanegara menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di luar Kepulauan
Indonesia. Misalnya dengan Raja Jayasingawarman III dan Kerajaan Campa. Bahkan
Raja Jayasingawarman III memperistri salah seorang saudara perempuan dari
Kertanegara. Kertanegara memandang Cina sebagai saingan. Berkali-kali utusan Kaisar
Cina memaksa Kertanegara agar mengakui kekuasaan Cina, tetapi ditolak oleh
Kertanegara. Terakhir pada tahun 1289 M datang utusan Cina yang dipimpin oleh
Mengki. Kertanegara marah, Mengki disakiti dan disuruh kembali ke Cina. Hal
inilah yang membuat marah Kaisar Cina yang bernama Kubilai Khan. Ia
merencanakan membalas tindakan Kertanegara.
Perkembangan Politik dan
Pemerintahan. Untuk menciptakan
pemerintahan yang kuat dan teratur, Kertanegara telah membentuk badan-badan
pelaksana. Raja sebagai penguasa tertinggi. Kemudian raja mengangkat tim penasihat
yang terdiri atas Rakryan i Hino, Rakryan i Sirikan, dan Rakryan i Halu. Untuk
membantu raja dalam pelaksanaan pemerintahan, diangkat beberapa pejabat tinggi
kerajaan yang terdiri atas Rakryan Mapatih, Rakryan Demung dan Rakryan
Kanuruhan. Selain itu, ada pegawai-pegawai rendahan. Untuk menciptakan
stabilitas politik dalam negeri, Kertanegara melakukan penataan di lingkungan
para pejabat. Orang-orang yang tidak setuju dengan cita-cita Kertanegara diganti.
Sebagai contoh, Patih Raganata (Kebo Arema) diganti oleh Aragani dan Banyak
Wide dipindahkan ke Madura, menjadi Bupati Sumenep dengan nama Arya Wiraraja.
Kehidupan Agama . Pada masa pemerintahan Kertanegara, agama
Hindu maupun Buddha berkembang dengan baik. Bahkan terjadi Sinkretisme
antara agama Hindu dan Buddha, menjadi bentuk Syiwa-Buddha.
Sebagai contoh, berkembangnya aliran Tantrayana. Kertanegara
sendiri penganut aliran Tantrayana. Usaha untuk memperluas
wilayah dan mencari dukungan dan berbagai daerah terus dilakukan oleh
Kertanegara. Banyak pasukan Singhasari yang dikirim ke berbagai
daerah. Antara lain pasukan yang dikirim ke tanah Melayu. Oleh karena
itu, kekuatan ibu kota kerajaan berkurang. Keadaan ini diketahui oleh
pihak-pihak yang tidak senang terhadap kekuasaan Kertanegara. Pihak yang
tidak senang itu antara lain Jayakatwang, penguasa Kediri. Ia berusaha
menjatuhkan kekuasaan Kertanegara. Saat yang dinantikan oleh Jayakatwang
ternyata telah tiba. Istana Kerajaan Singhasari dalam keadaan lemah. Pasukan
kerajaan hanya tersisa sebagian kecil. Pada saat itu, Kertanegara sedang
melakukan upacara keagamaan dengan pesta pora, sehingga Kertanegara
benar-benar lengah. Tibatiba, Jayakatwang menyerbu istana Kertanegara.
Serangan Jayakatwang dibagi menjadi dua arah. Sebagian kecil pasukan Kediri
menyerang dari arah utara untuk memancing pasukan Singhasari keluar dari pusat
kerajaan. Sementara itu induk pasukan Kediri bergerak dan menyerang dari arah
selatan. Untuk menghadapi serangan Jayakatwang, Kertanegara mengirimkan pasukan
yang ada di bawah pimpinan Raden Wijaya dan Pangeran Ardaraja. Ardaraja adalah
anak Jayakatwang dan menantu dari Kertanegara. Pasukan Kediri yang datang dari
arahn utara dapat dikalahkan oleh pasukan Raden Wijaya Akan tetapi, pasukan
inti dengan leluasa masuk dan menyerang istana, sehingga berhasil menewaskan Kertanegara.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1292 M. Raden Wijaya dan pengikutnya kemudian
meloloskan diri setelah mengetahui istana kerajaan dihancurkan oleh pasukan
Kediri. Sedangkan Ardaraja membalik dan bergabung dengan pasukan Kediri. Jenazah
Kertanegara kemudian dicandikan di dua tempat, yaitu di Candi Jawi di Pandaan
dan di Candi Singosari, di daerah Singosari, Malang. Sebagai raja yang besar,
nama Kertanegara diabadikan di berbagai tempat. Bahkan di Surabaya ada sebuah
arca Kertanegara yang menyerupai bentuk arca Buddha. Arca Kertanegara itu
dinamakan arca Joko Dolok. Dengan terbunuhnya Kertanegara maka
berakhirlah Kerajaan Singha
8. Kerajaan Majapahit
Setelah Singhasari jatuh, berdirilah kerajaan Majapahit yang berpusat di
Jawa Timur, antara abad ke-14 - ke-15 M. Berdirinya kerajaan ini sebenarnya
sudah direncanakan oleh Kertarajasa Jayawarddhana (Raden Wijaya). Ia mempunyai
tugas untuk melanjutkan kemegahan Singhasari yang saat itu sudah hampir runtuh.
Saat itu dengan dibantu oleh Arya Wiraraja seorang penguasa Madura, Raden
Wijaya membuka hutan di wilayah yang disebut dalam kitab Pararaton sebagai hutannya
orang Trik. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja,
dan rasa “pahit” dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Raden Wijaya bersekutu
dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Setelah berhasil
menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang pasukan Mongol sehingga
memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya. Pada masa pemerintahannya
Raden Wijaya mengalami pemberontakan yang dilakukan oleh sahabat-sahabatnya
yang pernah mendukung perjuangan dalam mendirikan Majapahit. Setelah Raden
Wijaya wafat, ia digantikan oleh putranya Jayanegara. Jayanegara dikenal
sebagai raja yang kurang bijaksana dan lebih suka bersenang-senang. Kondisi
itulah yang menyebabkan pembantupembantunya melakukan pemberontakan. Di antara
pemberontakan tersebut, yang dianggap paling berbahaya adalah pemberontakan
Kuti. Pada saat itu, pasukansari. Kuti berhasil menduduki ibu kota negara.
Jayanegara terpaksa menyingkir ke Desa Badander di bawah perlindungan pasukan Bhayangkara
pimpinan Gajah Mada. Gajah Mada kemudian menyusun strategi dan berhasil menghancurkan
pasukan Kuti. Atas jasa-jasanya, Gajah Mada diangkat sebagai Patih Kahuripan
(1319-1321) dan Patih Kediri (1322-1330). Kerajaan Majapahit penuh dengan
intrik politik dari dalam kerajaan itu sendiri. Kondisi yang sama juga terjadi
menjelang keruntuhan Majapahit. Masa pemerintahan Tribhuwanattunggadewi
Jayawisnuwarddani adalah pembentuk kemegahan kerajaan. Tribhuwana berkuasa di
Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam
Wuruk. Pada masa Hayam Wuruk itulah Majapahit berada di puncak kejayaannya.
Hayam Wuruk disebut juga Rajasanagara. Ia memerintah Majapahit dari tahun 1350
hingga 1389. Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada,
Majapahit mencapai zaman keemasan. Wilayah kekuasaan Majapahit sangat
luas, bahkan melebihi luas wilayah Republik Indonesia sekarang. Oleh karena
itu, Muhammad Yamin menyebut Majapahit dengan sebutan negara nasional kedua di
Indonesia. Seluruh kepulauan di Indonesia berada di bawah kekuasaan Majapahit.
Hal ini memang tidak dapat dilepaskan dan kegigihan Gajah Mada. Sumpah Palapa, ternyata
benar-benar dilaksanakan. Dalam melaksanakan cita-citanya, Gajah Mada didukung
oleh beberapa tokoh, misalnya Adityawarman dan Laksamana Nala. Di bawah
pimpinan Laksamana Nala Majapahit membentuk angkatan laut yang sangat kuat.
Tugas utamanya adalah mengawasi seluruh perairan yang ada di Nusantara. Di
bawah pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami kemajuan di berbagai
bidang. Menurut Kakawin Nagarakertagama pupuh XIII-XV, daerah
kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi,
kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan
Filipina. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian
selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok. Politik
dan Pemerintahan Majapahit telah mengembangkan sistem pemerintahan yang
teratur. Raja memegang kekuasaan tertinggi. Dalam melaksanakan
pemerintahan, raja dibantu oleh berbagai badan atau pejabat berikut.
1. Rakryan Mahamantri Katrini, dijabat oleh para putra raja, terdiri atas Rakryan i Hino, Rakryan i
Sirikan, dan Rakryan i Halu.
2. Dewan Pelaksana terdiri atas Rakryan Mapatih atau Patih Mangkabumi,
Rakryan Tumenggung, Rakryan Demung, Rakryan Rangga dan Rakryan
Kanuruhan. Kelima pejabat ini dikenal sebagai Sang Panca ring
Wilwatika. Di antara kelima pejabat itu Rakryan Mapatih atau Patih
Mangkubumi merupakan pejabat yang paling penting. Ia menduduki
tempat sebagai perdana menteri. Bersama sama raja, ia menjalankan
kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu terdapat pula dewan pertimbangan
yang disebut dengan Batara Sapta Prabu. Struktur tersebut ada di
pemerintah pusat. Di setiap daerah yang berada di bawah raja-raja,
dibuatkan pula struktur yang mirip. Untuk menciptakan
pemerintahan yang bersih dan berwibawa, dibentuklah badan peradilan yang
disebut dengan Saptopapati. Selain itu disusun pula kitab hukum
oleh Gajah Mada yang disebut Kitab Kutaramanawa. Gajah Mada memang
seorang negarawan yang mumpuni. Ia memahami pemerintahan strategi perang
dan hukum. Untuk mengatur kehidupan beragama dibentuk badan atau
pejabat yang disebut Dharmadyaksa. Dharmadyaksa adalah pejabat
tinggi kerajaan yang khusus menangani persoalan keagamaan. Di Majapahit
dikenal ada dua Dharmadyaksa sebagai berikut.
1. Dharmadyaksa ring Kasaiwan, mengurusi agama Syiwa (Hindu),
2. Dharmadyaksa ring Kasogatan, mengurusi agama Buddha.
Dharmadyaksa dibantu oleh pejabat keagamaan yang diberi sebutan Sang
Pamegat.
Kehidupan beragama di Majapahit berkembang semarak. Pemeluk yang beragama
Hindu maupun Buddha saling bersatu. Pada masa itupun sudah dikenal semboyan Bhinneka
Tunggal Ika, artinya, sekalipun berbeda-beda baik Hindu maupun
Buddha pada hakikatnya adalah satu jua. Kemudian secara umum kita artikan berbeda-beda
akhirnya satu jua Berkat kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada,
kehidupan politik, dan stabilitas nasional Majapahit terjamin. Hal ini
disebabkan pula karena kekuatan tentara Majapahit dan angkatan lautnya sehingga
semua perairan nasional dapat diawasi. Majapahit juga menjalin hubungan dengan
kerajaan lain. Hubungan dengan Siam, Birma, Kamboja, Anam, India, dan Cina
berlangsung dengan baik. Dalam membina hubungan dengan luar negeri, Majapahit
mengenal motto Mitreka Satata, artinya negara sahabat.
Kehidupan Sosial Ekonomi. Di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk,
rakyat Majapahit hidup aman dan tenteram. Hayam Wuruk sangat memperhatikan
rakyatnya. Keamanan dan kemakmuran rakyat diutamakan. Untuk itu dibangun
jalan-jalan dan jembatan-jembatan. Dengan demikian lalu lintas menjadi
lancar. Hal ini mendukung kegiatan keamanan dan kegiatan
perekonomian, terutama perdagangan. Lalu lintas perdagangan yang paling
penting melalui sungai. Misalnya, Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas.
Akibatnya desa-desa di tepi sungai dan yang berada di muara serta
di tepi pantai, berkembang menjadi pusat-pusat perdagangan. Hal
itu menyebabkan terjadinya arus bolak-balik para pedagang yang menjajakan
barang dagangannya dari daerah pantai atau muara ke pedalaman
atau sebaliknya.Bahkan di daerah pantai berkembang perdagangan
antar daerah, antar pulau, bahkan dengan pedagang dari luar.
Kemudian timbullah kota-kota pelabuhan sebagai pusat pelayaran
dan perdagangan. Beberapa kota pelabuhan yang penting pada zaman
Majapahit, antara lain Canggu, Surabaya, Gresik, Sedayu, dan
Tuban. Pada waktu itu banyak pedagang dari luar seperti dari Cina
India, dan Siam. Adanya pelabuhan-pelabuhan tersebut mendorong
munculnya kelompok bangsawan kaya. Mereka menguasai pemasaran
bahan-bahan dagangan pokok dari dan ke daerah-daerah Indonesia Timur dan
Malaka. Kegiatan pertanian juga dikembangkan. Sawah dan ladang dikerjakan
secukupnya dan dikerjakan secara bergiliran. Hal ini maksudnya agar tanah tetap
subur dan tidak kehabisan lahan pertanian. Tanggultanggul di sepanjang sungai
diperbaiki untuk mencegah bahaya banjir.
Perkembangan Sastra dan Budaya.Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, bidang
sastra mengalami kemajuan. Karya sastra yang paling terkenal pada zaman
Majapahit adalah Kitab Negarakertagama. Kitab ini ditulis oleh
Empu Prapanca pada tahun 1365 M. Di samping menunjukkan kemajuan di bidang sastra,
Negarakertagama juga merupakan sumber sejarah Majapahit. Kitab lain yang
penting adalah Sutasoma. Kitab ini disusun oleh Empu Tantular. Kitab Sutasoma
memuat katakata yang sekarang menjadi semboyan negara Indonesia, yakni Bhinneka
Tunggal Ika. Di samping itu, Empu Tantular juga menulis kitab Arjunawiwaha.
kemajuan di bidang sastra,
Sutasoma 139,4d-5d
Hyan Buddha tan
pabi lawan siwarajadewa rwanekadhatu winuwus wara Buddhawisma bhineki rakwa rinapankenapanarwanosen
manka n jiwatwa kalawan siwatatwa tunggal bhineka ika tan hanna dharma
mangruwa
Artinya : “Dewa Buddha tidak
berbeda dengan Siwa. Mahadewa di antara dewa-dewa. Keduanya dikatakan
mengandung banyak unsur Buddha yang boleh dikatakan tidak terpisahkan dapat
begitu saja dipisahkan menjadi dua? Jiwa Jina dan Jiwa Siwa adalah satu dalam
hukum tidak terdapat dualisme.”
Bidang seni bangunan juga berkembang. Banyak bangunan candi telah dibuat.
Misalnya Candi Penataran dan Sawentar di daerah Blitar, Candi Tigawangi dan
Surawana di dekat Pare, Kediri, serta Candi Tikus di Trowulan. Keruntuhan
Majapahit lebih disebabkan oleh ketidakpuasan sebagian besar keluarga raja,
setelah turunnya Hayam Wuruk. Perang Paregrek telah melemahkan unsur-unsur
kejayaan Majapahit. Meskipun peperangan berakhir, Majapahit terus mengalami
kelemahan karena raja yang berkuasa tidak mampu lagi mengembalikan kejayaannya.
Unsur lain yang menyebabkan runtuhnya Majapahit adalah semakin meluasnya
pengaruh Islam pada saat itu. Kemajuan peradaban Majapahit itu tidak hilang
dengan runtuhnya kerajaan itu. Pencapaian itu terus dipertahankan hingga masa
perkembangan Islam di Jawa. Peninggalan peradaban Majapahit juga dapat kita
saksikan pada perkembangan lingkup kebudayaan Bali pada saat ini. Kebudayaan
yang masihdikembangkan hingga masa Islam adalah cerita wayang yang berasal dari
epos India yaitu Mahabharata dan Ramayana, serta kisah asmara Raden Panji
dengan Sekar Taji (Galuh Candrakirana). Selain itu dapat kita saksikan juga
pada unsur arsitekturnya bentuk atap tumpang, seni ukir sulur-suluran dan
tanaman melata, senjata keris, lokasi keramat, dan masih banyak lagi.
9. Kerajaan Buleleng dan
Kerajaan Dinasti Warmadewa di
Bali
Menurut berita Cina di sebelah timur Kerajaan Kalingga ada daerah Po-li
atau Dwa-pa-tan yang dapat disamakan dengan Bali. Adat istiadat di Dwa-pa-tan
sama dengan kebiasaan orang-orang Kaling. Misalnya, penduduk biasa menulisi
daun lontar. Bila ada orang meninggal, mayatnya dihiasi dengan emas dan
ke dalam mulutnya dimasukkan sepotong emas, serta diberi bau-bauan yang harum.
Kemudian mayat itu dibakar. Hal itu menandakan Bali telah berkembang. Dalam
sejarah Bali, nama Buleleng mulai terkenal setelah periode kekuasaan Majapahit.
Pada waktu di Jawa berkembang kerajaan-kerajaan Islam, di Bali juga berkembang
sejumlah kerajaan. Misalnya Kerajaan Gelgel, Klungkung, dan Buleleng yang
didirikan oleh I Gusti Ngurak Panji Sakti, dan selanjutnya muncul kerajaan yang
lain. Nama Kerajaan Buleleng semakin terkenal, terutama setelah zaman
penjajahan Belanda di Bali. Pada waktu itu pernah terjadi perang rakyat
Buleleng melawan Belanda. Pada zaman kuno, sebenarnya Buleleng sudah
berkembang. Pada masa perkembangan Kerajaan Dinasti Warmadewa, Buleleng diperkirakan
menjadi salah satu daerah kekuasaan Dinasti Warmadewa. Sesuai dengan letaknya
yang ada di tepi pantai,Buleleng berkembang menjadi pusat perdagangan laut.
Hasil pertanian dari pedalaman diangkut lewat darat menuju Buleleng. Dari
Buleleng barang dagangan yang berupa hasil pertanian seperti kapas, beras,
asam, kemiri, dan bawang diangkut atau diperdagangkan ke pulau lain (daerah
seberang). Perdagangan dengan daerah seberang mengalami perkembangan pesat pada
masa Dinasti Warmadewa yang diperintah oleh Anak Wungsu. Hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya kata-kata pada prasasti yang disimpan di Desa Sembiran
yang berangka tahun 1065 M. Kata-kata yang dimaksud berbunyi, “mengkana ya
hana banyaga sakeng sabrangjong, bahitra, rumunduk i manasa...” Artinya, andai
kata ada saudagar dari seberang yang datang dengan jukung bahitra berlabuh di
manasa...” Sistem perdagangannya ada yang menggunakan sistem barter,
ada yang sudah dengan alat tukar (uang). Pada waktu itu sudah dikenal
beberapa jenis alat tukar (uang), misalnya ma, su dan piling. Dengan
perkembangan perdagangan laut antar pulau di zaman kuno secara ekonomis
Buleleng memiliki peranan yang penting bagi perkembangan
kerajaan-kerajaan di Bali misalnya pada masa Kerajaan Dinasti Warmadewa.
10. Kerajaan Tulang Bawang
Dari sumber-sumber sejarah Cina, kerajaan awal yang terletak di daerah
Lampung adalah kerajaan yang disebut Bawang atau Tulang Bawang. Berita Cina
tertua yang berkenaan dengan daerah Lampung berasal dari abad ke-5, yaitu dari
kitab Liu-sung-Shu, sebuah kitab sejarah dari masa pemerintahan Kaisar Liu Sung
(420–479). Kitab ini di antaranya mengemukakan bahwa pada tahun 499 M sebuah
kerajaan yang terletak di wilayah Nusantara bagian barat bernama P’u-huang atau
P’o-huang mengirimkan utusan dan barang-barang upeti ke negeri Cina. Lebih
lanjut kitab Liu-sung-Shu mengemukakan bahwa Kerajaan P’o-huang menghasilkan
lebih dari 41 jenis barang yang diperdagangkan ke Cina. Hubungan diplomatik dan
perdagangan antara P’o-huang dan Cina berlangsung terus sejak pertengahan abad
ke-5 sampai abad ke-6, seperti halnya dua kerajaan lain di Nusantara yaitu
Kerajaan Ho-lo-tan dan Kan-t’o-li. Dalam sumber sejarah Cina yang lain, yaitu
kitab T’ai-p’inghuang-yu-chi yang ditulis pada tahun 976–983 M,
disebutkan sebuah kerajaan bernama T’o-lang-p’p-huang yang oleh G.
Ferrand disarankan untuk diidentifikasikan dengan Tulang Bawang yang terletak
di daerah pantai tenggara Pulau Sumatera, di selatan sungai Palembang
(Sungai Musi). L.C. Damais menambahkan bahwa lokasi T’o-lang P’o-huang
tersebut terletak di tepi pantai seperti dikemukakan di dalam Wu-pei-chih,
“Petunjuk Pelayaran”. Namun, di samping itu Damais kemudian memberikan
pula kemungkinan lain mengenai lokasi dan identifikasi P’o-huang atau
“Bawang” itu dengan sebuah nama tempat bernama Bawang (Umbul Bawang) yang
sekarang terletak di daerah Kabupaten Lampung Barat, yaitu di daerah
Kecamatan Balik Bukit di sebelah utara Liwah. Tidak jauh dari desa
Bawang ini, yaitu di desa Hanakau, sejak tahun 1912 telah ditemukan
sebuah inskripsi yang dipahatkan pada sebuah batu tegak, dan tidak jauh
dari tempat tersebut dalam waktu beberapa tahun terakhir ini masih
ditemukan pula tiga buah inskripsi batu yang lainnya.
11. Kerajaan Kota Kapur
Dari hasil penelitian arkeologi yang dilakukan di Kota Kapur,Pulau
Bangka, pada tahun 1994, diperoleh suatu petunjuk tentang kemungkinan adanya
sebuah pusat kekuasaan di daerah itu sejak masa sebelum munculnya Kerajaan
Sriwijaya. Pusat kekuasaan ini meninggalkan temuan-temuan arkeologi berupa
sisa-sisa sebuah bangunan candi Hindu (Waisnawa) terbuat dari batu bersama dengan
arca-arca batu, di antaranya dua buah arca Wisnu dengan gaya seperti arca-arca
Wisnu yang ditemukan di Lembah Mekhing, Semenanjung Malaka, dan Cibuaya, Jawa
Barat, yang berasal dari masa sekitar abad ke-5 dan ke-7 masehi. Sebelumnya di
situs Kota Kapur selain telah ditemukan sebuah inskripsi batu dari Kerajaan Sriwijaya
yang berangka tahun 608 Saka (=686 Masehi), telah ditemukan pula
peninggalan-peninggalan yang lain di antaranya sebuah arca Wisnu dan sebuah
arca Durga Mahisasuramardhini. Dari peninggalan-peninggalan arkeologi tersebut
nampaknya kekuasaan di Pulau Bangka pada waktu itu bercorak Hindu-Waisnawa,
seperti halnya di Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Temuan lain yang penting
dari situs Kota Kapur ini adalah peninggalan berupa benteng pertahanan yang
kokoh berbentuk dua buah tanggul sejajar terbuat dari timbunan tanah,
masingmasing panjangnya sekitar 350 meter dan 1200 meter dengan ketinggian
sekitar 2–3 meter. Penanggalan dari tanggul benteng ini menunjukkan masa antara
tahun 530 M sampai 870 M. Benteng pertahanan tersebut yang telah dibangun
sekitar pertengahan abad ke-6 tersebut agaknya telah berperan pula dalam
menghadapi ekspansi Sriwijaya ke Pulau Bangka menjelang akhir abad ke-7.
Penguasaan Pulau Bangka oleh Sriwijaya ini ditandai dengan dipancangkannya inskripsi
Sriwijaya di Kota Kapur yang berangka tahun 608 Saka (=686 Masehi), yang isinya
mengidentifikasikan dikuasainya wilayah ini oleh Sriwijaya. Penguasaan Pulau
Bangsa oleh Sriwijaya ini agaknya berkaitan dengan peranan Selat Bangsa sebagai
pintu gerbang selatan dari jalur pelayaran niaga di Asia Tenggara pada waktu
itu. Sejak dikuasainya Pulau Bangka oleh Sriwijaya pada tahun 686 maka
berakhirlah kekuasaan awal yang ada di Pulau Bangka.
Kesimpulan
1. Sejak semula tampak bahwa letak geografis Nusantara (yang kemudian
menjadi Indonesia) memainkan peran utama sejak zaman pra-aksara. Faktor
geografis ini tampaknya merupakan faktor permanen dalam perjalanan sejarah
Indonesia sepanjang masa. Peran itu ditunjukkan di zaman Hindu-Buddha, ketika
jalur utama dalam pelayaran samudra semakin pesat dan mengintegrasikan daerah
antarpulau. Kondisi demikian didukung dengan keterlibatan nenek moyang kita
secara aktif dalam perdagangan laut, dan mengarungi lautan. Ini pada gilirannya
telah menumbuhkan kekuatan ekonomi dan politik yang besar di Nusantara sehingga
mampu mengintegrasikan wilayah-wilayah di Nusantara terutama era Kerajaan
Sriwijaya, Singhasari dan Majapahit.
2. Silang budaya Nusantara di zaman pra-aksara terlihat jelas ketika
masuknya pengaruh budaya Austronesia. Sebagian besar dimungkinkan berkat posisi
silang letak geografis Nusantara (di antara dua benua dan dua samudra). Sekali
lagi pola itu diulangi lewat integrasi budaya dominan seperti Hindu-Buddha.
Sumbangan terbesar dari zaman Hindu-Buddha ialah membebaskan Nusantara dari
zaman pra-aksara dan memberi jalan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
untuk zamannya. Budaya tulis tetap merupakan bagian penting dalam perkembangan
peradaban sampai hari ini. Meskipun sekarang kita sudah mengenal media cyber
(media maya), budaya tulisan tidak akan pernah ditinggalkan dan bahkan akan
semakin maju apabila generasi kita semakinmenguasai bahasa tulis.